Salam Semangat Para Pejuang Beasiswa 🙂
Kali ini saya membuat tulisan untuk menjawab pertanyaan dari Alia, yang menyapa dan memberikan pertanyaan-pertanyaan melalui Instagram saya. Tadinya Alia menyangka bahwa saya menyelesaikan S2 di luar negeri, jadi ia banyak memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait studi S2. Tapi insyaAllah ada beberapa pertanyaannya yang masih bisa relate saya jawab berdasarkan pengalaman saya kuliah di luar negeri.
Jadi, silakan ya rekan-rekan kalau ada hal-hal yang ingin ditanyakan bisa menghubungi saya melalui pilihan kontak yang tersedia. Seneng lho, saya jadi tahu hal apa saja yang rekan-rekan ingin tahu terkait proses studi lanjut ke luar negeri. InsyaAllah akan saya coba share jawaban-jawabannya di website ini. Tentu saja sebatas yang saya tau ya:)
Oke baiklah, Alia melontarkan beberapa pertanyaan berikut:
1. Apa motivasi yang membuat mantap untuk mengejar kuliah ke luar negeri?
Motivasi kuliah di luar negeri memang macem-macem banget ya, dan menurut saya cenderung bersifat personal untuk setiap orang. Bagi saya, motivasi saya untuk studi ke luar negeri dulu tuh karena saya pengen banget merasakan bisa tinggal di negeri empat musim.
Merasai bulir bulir salju yang turun di musim dingin, menguningnya daun-daun di musim gugur, merekahnya bunga bunga di musim semi dan hangatnya musim panas. Bagi saya, merasakan suatu pengalaman baru yang berbeda itu sangat mengesankan. Sayangnya saya “terpapar” kesempatan untuk di studi negeri agak terlambat, informasi tentang studi di luar negeri dan kesempatan beasiswa tidak melimpah ruah seperti sekarang ini.
Jadi saya baru bisa mendapatkan kesempatan luar negeri ketika studi S3. Pernah sih sebelumnya ke luar negeri untuk beasiswa bahasa dan budaya di Italia selama 3 bulan di Universita per Stranieri di Perugia selama 3 bulan. Hah kok bisa saya yang kuliah bidang eksakta berbelok belajar bahasa dan budaya langsung di Italia? hehe simak dong kisahnya buku “Koloni Milanisti”. Masih ada lho ready stock-nya, tinggal klik banner di samping kanan website ini *promosi 😀
Yang jelas sih movitasi saya bersifat lebih personal yang pengen tinggal di luar negeri, bisa jalan-jalan ke tempat-tempat yang dulu saya impikan banget! itu sih alasan utamanya. Alasan menimba ilmunya tentu saja ada, tapi yaaa lebih banyak modusnya ! haha jujur banget. Eh tapi motivasi tiap orang itu memang beda-beda kok. Yang penting temukan movitasinya sendiri, karena itulah yang akan menguatkan langkah-langkahmu ketika mulai melangkah untuk mewujudkannya.
2. Dulu Bagaimana Memilih Universitas dan Jurusan yang diinginkan
Perkara memilih universitas dan jurusan juga lagi-lagi kita perlu banyak membincangi diri sendiri. Hal-hal apa sih yang saya pertimbangkan ketika mau memilih kemana ingin studi lanjut? Nah, ini kan lagi-lagi pertimbangan pribadi. Dari pengalaman saya waktu itu, karena saya sudah memantapkan hati ingin tinggal di UK (United Kingdom/Inggris Raya), jadi yang saya lakukan adalah mencari universitas mana yang cocok untuk studi saya.
Waktu itu saya sudah menjadi dosen di Universitas Jenderal Soedirman Jurusan Kesehatan Masyarakat, jadi ya tentu saja saya mencari supervisor yang sesuai dengan bidang keilmuan saya. Ada dua universitas yang saya incar waktu itu, London School of Hygiene and Tropical Medicine dan University of Edinburgh.
Hanya saja karena saya tidak terlalu suka tinggal di kota besar seperti London, jadilah saya membidik University of Edinburgh sampai akhirnya diterima di universitas tersebut. Jadi kamu harus mengenali dirimu sendiri dulu, pengennya tinggal di kota yang seperti apa. Lho kok jadinya kuliah di University of Glasgow? hihi panjang ceritanya, kapan-kapan saya cerita ya!
Untuk S2 tentu saja prosesnya akan berbeda, kalau S3 sangat bergantung pada supervisor sedangkan untuk melanjutkan studi S2 lebih cenderung langsung bisa melihat persyaratan masuk di jurusan tertentu. Bagaimana memilih universitas dan jurusan yang pas?suatu saat saya bikin postingan yang lebih mendetail tersendiri ya.
3. Apakah dulu kuliah dengan beasiswa kalau iya beasiswa apa?
Iya dong, saya tuh dari kuliah S1 sampai S3 sangat terbantu dengan adanya beasiswa. Karena tanpa beasiswa, hampir mustahil saya dapat menggapai sampai ke pendidikan doktoral. Untuk kuliah doktoral, saya mendapat beasiswa dari Dikti (istilahnya saat itu), yang sekarang bernama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Karena saya seorang dosen, memang potensi untuk mendapatkan beasiswa tersebut lebih besar. Dan juga waktu itu (Tahun 2011) belum ada beasiswa LPDP seperti sekarang ini. Sekarang ini makin banyak pilihan beasiswa yang dapat kalian manfaatkan, beberapa di antaranya bisa dibaca di sini.
4. Kesulitan apa yang dihadapi dalam apply beasiswanya?
Kalau saya dulu tuh, untuk mendaftar beasiswa Dikti harus sudah mendapatkan LOA (Letter of Acceptance) yang unconditional offer -artinya sudah diterima tanpa ada tambahan syarat apapun. Berbeda ya dengan LOA yang conditional offer (misalnya diterima tapi belum lulus syarat bahasa inggrisnya).
Jadi dulu saya cari supervisor dulu, kemudian melengkapi syarat-syarat untuk diterima di universitasnya, baru mendaftar beasiswa. Tapi yang perlu diingat, setiap skema beasiswa beda-beda lho! ada yang mendaftar beasiswa dulu baru cari universitas ataupun ada pula yang prosesnya berjalan pada saat yang bersamaan. Yang penting kalian rajin-rajin mencari informasi saja.
Kalau kesulitannya, mungkin yang paling terasa bagi saya adalah untuk mencapai syarat skor IELTS yang disyaratkan hehe. Ya mungkin karena kemampuan bahasa Inggris saya juga pas-pas an. Untuk menembus skor IELTS, saya mengikuti kursus IELTS dari program Dikti selama 3 bulan di Malang, dan kemudian belajar mandiri.
Total saya melakukan 3 kali tes IELTS baru bisa berhasil menembus skor yang dipersyaratkan. Dan tiap kali tes tuh deg-degan karena dua hal, pertama deg-degan skor-nya tembus apa enggak, kedua karena bayarnya mahal (sekitar hampir 3 jutaan sekali tes). Jadi kebayang kalau skornya belum lolos harus mengeluarkan biaya lagi hehe.
5. Urusan visa, apartemen disana bagaimana? Apakah sulit?
Urusan kelengkapan seperti visa sebenarnya nggak sulit, hanya saja butuh kesabaran dan ketelatenan untuk mengurusnya satu per satu. Kemudian untuk tempat tinggal juga relatif mudah kok. Kita bisa mengontak PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di kota yang akan kita tuju. Mereka pasti akan membantu mahasiswa-mahasiswa baru kok, termasuk dalam memberikan informasi akomodasi. Detailnya kapan kapan akan saya bahas lengkap ya 🙂
6. Posisi awal kuliah di luar negeri apakah sudah fasih berbahasa inggris atau bagaimana?
Hihi, kemampuan bahasa Inggris saya seadanya kok. Asal bisa menembus skor IELTS yang dipersyaratkan dan akhirnya diterima di universitas idaman sudah sangat bersyukur. Kalau soal komunikasi modalnya nekad sih, lama-lama juga terbiasa. Tinggal di negara yang berbahasa Inggris akan membuatmu mau tidak mau harus mempraktikkan bahasa tersebut setiap hari, dan pasti membuat bahasa Inggris meningkat pesat.
Tapi memang alangkah baiknya, kemampuan bahasa Inggris baik oral maupun tulisan ditingkatkan dulu deh. Karena nanti pas kuliah kalian akan diminta berkomunikasi misal diskusi-diskusi serta menulis tugas, paper ataupun disertasi/thesis dalam bahasa Inggris lho. Jadi belum terlambat untuk mempersiapkan dengan baik.
Baiklah, demikian beberapa jawaban saya atas pertanyaan Alia. Memang ada beberapa yang belum tuntas ya saya jawab hehe, soalnya membutuhkan penjelasan yang lebih mendetail lagi. InsyaAllah beberapa topik yang perlu penjelasan lebih lanjut akan saya kupas tuntas pada postingan-postingan selanjutnya.
Salam Semangat 🙂

