Cuaca akhir Bulan September di Glasgow yang sudah mulai dingin dan berangin menyambut saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota itu. Saat itu hati saya terasa hangat walaupun kulit tropis saya segera harus beradaptasi dengan cuaca Glasgow yang dingin. Itulah kesan pertama kali saya ketika tiba di Glasgow, United Kingdom Tahun 2011 bertahun lalu.
Saat itu di pikiran saya, hanya nekad saja ketika memutuskan untuk melanjutkan studi doktoral saya di University of Glasgow, UK. Awalnya saya diterima di University of Edinburgh, namun menjelang keberangkatan supervisor saya, Dr (waktu itu belum Prof) Alain Kohl pindah ke University of Glasgow dan saya pada akhirnya ikut pindah mengikuti beliau.
Tapi mau ngapain saja selama PhD? sebenarnya PhD harus seperti apa?
Sungguh waktu itu persiapan dan perbekalan informasi saya sangatlah minim. Saya waktu itu adalah dosen junior yang belum genap dua tahun mengabdi, pengalaman penelitian sangatlah minim. Apalagi saya background S1 biologi, S2 ilmu kedokteran tropis kemudian diterima jadi dosen kesehatan masyarakat. Ketika belum terlalu mendalami “jiwa” kesmas kemudian saya nekad melanjutkan studi. Bahkan di proposal riset yang saya tulis, sebenarnyapun saya masih bingung mau ngapain saja hihi…
Baiklah, saya terlalu nekad. Tapi kalau nggak gitu, nggak segera berangkat-berangkat sekolah lagi!
Saya masih ingat pertama kali ke kampus/lab untuk bertemu dengan supervisor saya. Mengenakan coat pinjaman dari Mbak Niken (karena dari Indonesia saya hanya membawa jaket agak tebal), saya melangkahkan kaki ke laboratorium Center for Virus Research di Church Street, tidak terlalu jauh dari main buildingnya University of Glasgow. Pertama kali bertemu dengan supervisor saya Alain, kemudian saya dibawa berkeliling lab dan dikenalkan dengan anggota-anggota lab.
Saya masih kikuk, mengikuti langkahnya yang panjang-panjang. Hanya melempar senyum dan berbasa basi dengan para anggota lab waktu itu. Dunia baru yang kumasuki. Setelah selesai membawa saya berkeliling, kami mengobrol sejenak. Saya ingat pertanyaan super polos saya pada Alain waktu itu,
“Lalu saya harus mengambil kuliah ataupun course apa di awal awal PhD saya?” tanya saya polos.
“No no…ngapain ambil course, you’ re an expert!” saya masih ingat kalimat itu dilontarkan oleh Alain waktu itu.
Wew! wadu waduuu saya langsung ciut hati dibilang ahli, karena sadar diri masih begitu minimnya pengetahuan dan pengalaman. Yang sebenarnya PhD juga belum tau mau ngapain. Saya sungguh tersenyum kecut.
Intinya, waktu itu Alain bilang kamu bisa langsung mengerjakan projek penelitian untuk S3mu. Sepanjang perjalanan pulang, sungguh saya seperti disentakkan oleh kenyataan, hayoooo panik kaaan wkwkwk.
Tapi yang terlihat di sosial media waktu itu adalah foto-foto saya yang excited dengan kehidupan baru di tanah berantah seperti ini

Ya memang saya excited sih hehe, untung Glasgow indah ya kan. Apalagi kampus-nya yang mirip Hogwart-nya Harry Potter. Saya sungguh menikmati awal-awal adaptasi saya hidup di Glasgow. Berkenalan dengan rekan rekan baru, menjelajah tempat-tempat baru, Hidup dalam dunia yang benar-benar baru.
Tapi dari cerita ini, saya ingin menyampaikan suatu hal pada rekan-rekan yang hendak melanjutkan studi PhD khususnya yang di luar negeri. Plan, Plan, Plan! rencanakan dengan baik, dan cari informasi dan bekal sebanyak banyaknya. hehhe biar nggak kayak saya.
Saya di awal studi pada akhirnya mencari sumber sumber bacaan tentang PhD di internet, seperti apa sih sebenarnya kehidupan PhD itu, dan PhD itu dituntut harus ngapain. Waktu itu informasi tentang studi di luar negeri tidak sebanyak sekarang. Dan di jurusan saya, juga belum ada bisa berbagi pengalaman karena baru 1 orang yang juga berbarengan dengan saya melanjutkan studi doktoralnya ke Jerman. Jadilah saya benar-benar minim perbekalan.
Jadi saya mencari tau sekaligus berjalan memulainya. Agak tersuruk suruk rasanya pada mulanya. Pada minggu-minggu awal saya harus mempelajari modul healthy and safety lab yang super tebal. Bahan kimia ini itu harus diperlakukan begini begitu, buang limbahnya harus bagaimana. Berada di lab yang terasa masing asing dengan alat-alatnya. Itu sudah membuat saya berpikir…
Kayaknya saya berada di tempat yang salah.
Serius, saya pernah berpikir demikian. ngerasa bego banget karena rasanya nggak ngerti apa-apa. Insecure.
Tapi bukankah ini keputusan hidup yang sudah saya pilih sendiri? satu-satunya cara menjalaninya ya hanya “HADAPI”
Mungkin rekan rekan PhD punya pengalaman yang berbeda, ya tentu saja masing-masing berbeda beda. Tapi saya hanya ingin share perjalanan saya.
Lalu kenapa dikatakan PhD itu sebuah perjalanan sunyi? tunggu cerita selanjutnya ya hehe

Hidup terkadang adalah pilihan-pilihan yang kita buat sendiri.
Maka hadapilah dengan berani
Salam

