Tiba tiba inbox email student saya ramai berisi saling berbalas ucapan selamat dari supervisor dan para anggota lab ketika hari itu ada notifikasi paper saya diterima untuk diterbitkan. Terasa sekali rasa senang dan euforia keberhasilan yang saat itu saya bahkan tidak paham mengapa mereka sebegitunya menyambut dengan begitu bahagia. Kok mereka kayaknya seneng banget ya? Kok sepertinya bagi mereka ini sesuatu yang luar biasa dan patut dirayakan?
Saya sempat heran dan terbengong. Seriusan waktu itu saya begitu polos dan lugunya tentang publikasi jurnal ilmiah. Bahkan waktu itu saya belum tahu ada kriteria “gengsi” kualitas perjurnalan yang dikategorikan dari Quartil 1 (Q1) sampai Q4. Publikasi saya sebelum berangkat studi S3 baru satu, itupun di jurnal internal institusi saya sendiri. Saya pun kala itu belum tahu apa sih pentingnya menerbitkan artikel ilmiah di jurnal yang bereputasi.
“Siwi, coba deh kamu tulis artikel jurnal dari hasil penelitian lapanganmu di Indonesia yang kemarin itu. Nanti kita cek, ” begitulah kira-kira perintah Alain Kohl, supervisor saya, waktu itu. Mendengar perintah dari supervisor saya, humm agak stress dong karena bagi saya terasa menjadi beban tambahan karena pada saat yang sama sedang menulis bab-bab thesis saya. Oh ya, tugas akhir untuk studi S3 kalau di UK istilahnya thesis ya..memang berkebalikan dengan yang umumnya di sini, yang seringkali menyebutnya sebagai disertasi.
Tapi bagi PhD student, titah supervisor adalah sebuah kewajiban. Mau nggak mau dong, saat itu saya mencoba membuat artikel ilmiah dari hasil penelitian saya tentang survei nyamuk di Indonesia. Itulah pertama kalinya saya menulis draft artikel ilmiah dalam bahasa Inggris. Yang jelas masih teringat, betapa saya merasa begitu tidak percaya diri akan banyak hal waktu itu.
Saya menganggap hasil penelitian saya itu “cuma gitu-gitu doang lho”, artinya bukan sesuatu penemuan yang istimewa. Kedua, karena bahasa tulis saya menggunakan Bahasa Inggris yang masih pas-pasan hehe. Sampai menginjak tahun ke-empat saya masih merasa struggling saat harus menulis ilmiah dalam bahasa Inggris. Padahal jelas dong, semua bab thesis harus ditulis dengan bahasa tersebut.

Pada akhirnya, dari studi PhD saya terpublish dua artikel di PLos Neglected Tropical Disease yang masuk dalam kategori Q1. Dalam perjalanannya tersebut saya belajar beberapa hal salah satunya “Bila kamu hendak atau sedang menempuh studi S3, beneran deh manfaatkan sebaik mungkin kesempatanmu untuk menulis jurnal ilmiah sebanyak yang kamu bisa”. Saya baru menyadari hal ini setelah pulang kembali ke Indonesia. Dulu saya berangkat melanjutkan studi S3 masih belum genap 2 tahun menjadi dosen muda.
Masih belum banyak tahu dunia perdosenan. Setelah saya pulang, ternyata publikasi ilmiah begitu penting bagi karir dosen dan juga tentu saja idealisme kontribusi ilmiah. Saat S3, kamu punya “fasilitas” yang akan menghilang ketika sudah selesai studi. Berdasarkan pengalaman saya waktu itu, paper saya mulai dari awal sudah mendapat bimbingan banyak pihak.
Di awal, naskah saya banyak mendapat masukan dan perbaikan terutama bahasa oleh dua orang post doc yang bekerja pada supervisor saya. Melanie dan Stephanie lah yang mengoreksi draft awal paper-paper saya, termasuk juga semua bab Thesis saya. Dulu saya menganggapnya sesuatu hal yang take it for granted. Padahal kalau harus membayar jasa itu berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan? dan saya mendapatkannya for free.
Kemudian masukan, saran dan perbaikan terus menerus juga dilakukan pada naskah dengan membagikan manuscript paper ke seluruh anggota tim. Semuanya aktif memberikan masukan perbaikan. Atmosfer seperti ini sih yang kemudian saya rasakan agak “hilang” ketika memulai perjalanan lagi menerbitkan artikel ketika sudah selesai PhD.
Biasanya yang aktif mengerjakan ya hanya penulis utamanya saja, yang lain biasanya hanya anggota tim penelitian saja. Padahal saya sangat merasakan betapa bermanfaatnya ketika paper ditulis dengan kolaborasi aktif dari banyak orang yang terlibat. Akan ada banyak masukan penting serta perbaikan yang akan dapat menyempurnakan naskah papernya.

Fasilitas lain yang didapatkan saat itu yakni, biaya publikasinya saat itu dibayarin penuh oleh supervisor. Waktu itu untuk menerbitkan di jurnal PLos Neglected Tropical Disease harus membayar sekitar 29 jutaan per paper. Duh kebayang kan kalau misal harus membayar dengan biaya sendiri. Jadi begitulah, sekarang mau memilih jurnal juga harus mempertimbangkan dulu biaya publikasinya. Kuat mbayar enggak? haha.
Saya sungguh bersyukur memang supervisor saya baik dan suportif. Ketika harus pulang ke Indonesia untuk riset tiket pulang pergi dibayarin, pergi konferensi juga full dibayarin mulai dari tiket, biaya konferensi, serta akomodasi. Dari studi PhD saya, lahir dua jurnal yang keduanya dalam kategori Q1 dan semuanya juga dibayarin penuh.
Memang dalam prosesnya lumayan panjang dan melelahkan. Untuk paper yang pertama, saya harus melewati 4 kali revisi yang “berdarah-darah” rasanya. Itu pengalaman pertama kali mendapatkan revisi yang “major” dan harus dengan sabar dan runtut untuk memperbaiki satu-per satu komentar dan masukan dari dua orang reviewer. Revisi pertama sekitar 9 halaman yang harus dijawab dan dipenuhi satu per s
atu. Ada yang minta tambahan analisis, klarifikasi metode, mempertanyakan ini dan itu. Dan supervisor serta seluruh tim membantu banget proses-nya, bahkan sampai diadakan meeting untuk membahas kemajuan paper. Kupikir, serius amat ya mereka menjalani proses itu. Sedangkan saya waktu itu hanya punya satu tujuan dan pemikiran, gimana caranya biar lulus tepat waktu haha!
Untuk perjalanan paper pertama saya sekitar 1 tahunan baru berhasil terpublikasi, sementara paper kedua relatif lebih smooth prosesnya dengan hanya 2 kali revisi dengan waktu yang lebih singkat. Pengalaman tersebut tentu saja begitu membekas dalam perjalanan saya di dunia publikasi ilmiah.
Andai oh andai, saya tahu betapa apa yang saya dapatkan dulu itu sungguh berharga. Pastilah saya akan lebih sungguh-sungguh mengerjakan dan bersemangat untuk mempublikasikan jurnal-jurnal lainnya. Wahai calon mahasiswa Ph.D, dengarkanlah pesan saya ini hehe.

Memang keberhasilan saya menembus publikasi di jurnal Q1 tak lepas dari peran penting supervisor dan tim lab-nya. Saya belajar bagaimana mengemas hasil penelitian dengan kerangka berpikir yang menarik sehingga bisa memotret suatu topik dengan spesifik tapi komprehensif. Aduh kalau itu memang butuh jam terbang memang ya, saya masih susah payah urusan itu.
Apalagi setelah selesai pulang ke tanah air, memulai lagi perjalanan mandiri mempublikasi artikel ilmiah tanpa ada lagi “kemewahan-kemewahan” yang saya dapatkan ketika saya Ph.D. Tidak ada lagi bimbingan supervisor, proofread dan masukan yang free dari para post doc, akses ke jurnal gratis melimpah ruah menggunakan akses student, biaya jurnal dibayarin dan banyak lagi lainnya.
Kalau yang lain mungkin berjalan menanjak dari jurnal internasional yang belum terindeks, kemudian naik level Q4 sampai akhirnya Q1. Sementara saya berkebalikan, di awal Q1 kemudian memulai lagi mandiri dengan publikasi-publikasi yang saya pikir realistis dengan level yang dapat “teraih”.
Minggu lalu, artikel saya diterima di kategori Q2 sebagai penulis pertama, kemudian kemarin mendapat kabar dari rekan tim kolaborasi riset bahwa artikel diterima di Q1. Semoga sebentar lagi saya bisa ikut mempublikasikan lagi jurnal di kategori Q1 lagi sebagai penulis pertama. Bahwa memang perjalanannya tidak mudah memang begitu adanya, tapi bila terus melangkah, terus bergerak, apapun yang ingin kita tuju pasti akan sampai pula pada akhirnya.
Mari kita hidupi semangat untuk rajin mempublikasikan hasil karya kita, sebagai kontribusi keilmuan dan semoga dapat memberi kebermanfaatan.
Salam Karya!

