Mempublikasikan jurnal ilmiah sekarang ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia dosen dan peneliti. Produktivitas kita dalam menghasilkan publikasi ilmiah sangat penting untuk peningkatan karir misalnya untuk poin kenaikan pangkat, ada pula insentif yang didapatkan dan tentu saja sebagai bentuk kontribusi kita dalam ilmu pengetahuan.
Dan salah satu langkah dalam mempublikasikan jurnal ilmiah yakni memilih kemana manuskrip jurnal kita akan dikirimkan. Nah, apa sih hal-hal yang perlu kita pertimbangkan ketika akan memilih jurnal sasaran kita untuk mempublikasikan jurnal ilmiah kita?
1.Kredibilitas dan peringkat jurnal
Pada saat kita memilih jurnal target, langkah untuk mengecek kredibilitas jurnal pasti merupakan langkah yang penting. Nggak mau kan kalau hasil penelitian kita diterbitkan oleh jurnal abal-abal, apalagi jurnal predator. Salah satu tempat untuk memilih dan mengecek jurnal, saya menggunakan SCImago Journal Ranking (SJR) yang bisa dicek di sini.

Di website tersebut. kita dapat mengecek perangkingan jurnal. Silahkan pilih bidang ilmu yang akan dicari, kemudian akan muncul informasi ranking jurnal dari Q1 sampai ke Q4. Kalian bisa melihat detail informasi jurnalnya dengan mengklik pada nama jurnal tersebut. Dalam memilih jurnal memang kita harus rajin-rajin mencari informasi ya.
Ada beberapa lembaga pengindeks bereputasi lain yang bisa dijadikan acuan, yakni SCI, SCIE, SSCI, ISI serta EI compendex yang bisa dimanfaatkan untuk melihat kredibilitas jurnal. Oh ya untuk mengecek impact factor juga bisa di https://www.scijournal.org/
2. Biaya publikasi
Jangan lupa untuk melihat biaya publikasi yang harus dibayarkan untuk menerbitkan artikel jurnal kita. Memang ada beberapa jurnal yang gratis, bahkan untuk jurnal yang bereputasi sekalipun (misalnya jurnal tersebut dibiayai oleh sponsor), namun kebanyakan jurnal akan menetapkan biaya publikasi. Biasanya sering dikenal dengan APC (Article Processing Charge/APC).
Saya selalu mengecek biaya publikasinya dulu sebelum memutuskan memilih jurnal. Iya dong, kalau misalnya terlalu mahal kemudian kita nggak bisa bayar kan nggak realistis juga dong. Karena ada jurnal yang menetapkan APC bisa sampai 30-35 juta rupiah lho. Pertimbangkan berapa budjet biaya publikasi kita (misalnya dalam rencana anggaran hibah penelitian kita), kalau misalnya memang cukup ya kenapa tidak. Tapi kalau memang budjetnya terbatas, ya kita harus memilih jurnal yang sesuai dengan budjet kita.
3. Jumlah edisi penerbitan dalam setahun
Salah satu hal yang biasanya saya perhatikan ketika memilih jurnal yakni berapa banyak edisi jurnal tersebut dalam satu tahun. Ada jurnal yang 2 kali dalam setahun, 4 kali, atau bahkan setiap bulan. Frekuensi penerbitan akan mempengaruhi seberapa “peluang” artikel kita untuk cepat diterbitkan. Jangan memilih jurnal yang frekuensi penerbitannya nggak teratur. Misalnya ada tahun-tahun yang penerbitannya kosong. Frekuensi penerbitan yang teratur merepresentasikan kredibilitas penerbit dalam mengelola jurnal mereka.
4. Waktu pemrosesan jurnal
Terkadang dalam memilih jurnal, saya juga memperhatikan waktu pemrosesan-nya. Terkadang ada jurnal yang sudah memberikan informasi ini secara resmi di website-nya mereka tentang berapa lama mereka akan memberikan review, tingkat penolakan jurnal (rejection rate) dan informasi lainnya. Namun ada banyak juga yang tidak memberikan informasi tersebut.
Kalau misal lebih dari 2 bulan tidak ada kabar berita nasib artikel kita bete juga dong, nunggu tanpa kejelasan. Kamu bisa berinisiatif mengirimkan email untuk menanyakan kabar artikel kita kepada editor jurnalnya. Kalau tidak ada respon juga, lebih baik artikelnya ditarik saja (withdraw) untuk diproses ke jurnal lain.
Namun jangan pula tergiur dengan tawaran jurnal yang akan menerbitkan artikel ilmiah dalam waktu yang cepat, misalnya dalam 3-5 hari dan diminta membayar jumlah biaya publikasi tertentu. Udah pasti itu jurnal abal-abal, karena dengan waktu yang secepat itu dipastikan tidak melalui proses peer review yang semestinya.
Menurut pengalaman saya, waktu dari submit sampai review diberikan paling tidak kita harus menunggu sekitar 1-2 bulan masih kisaran yang normal. Kita juga bisa menanyakan waktu pemrosesan jurnal pada rekan kita yang pernah menerbitkan di jurnal tersebut.
5. Kualitas riset kita
Dalam memilih jurnal, terutama rankingnya kita juga harus mempertimbangkan kualitas riset kita. Artinya, kita harus realistis dalam memilih. Walaupun sah-sah saja untuk mensasar ranking jurnal yang tinggi. Lama lama kita bisa menimbang kok, kira-kira riset kita cocoknya masuk di ranking jurnal yang mana.
Terkadang pembiayaan riset yang terbatas membuat penelitian kita sampelnya tidak bisa banyak, ataupun misalnya ada analisis-analisis laboratorium yang tidak bisa dilakukan. Ataupun penelitian “payung” yang datanya dipecah jadi beberapa jurnal. Makanya dalam menentukan rangking jurnal, kita sendiri yang dapat menentukan.
Tapi kalau benar-benar kita yakin kualitas riset kita yahud, jangan ragu untuk menarget bisa terbit di jurnal bereputasi yang berkualitas tinggi. Karena dengan menerbitkan di jurnal yang berkualitas tinggi, akan lebih berpeluang untuk dibaca lebih banyak orang, sehingga kita dapat mengkomunikasikan hasil temuan kita dengan lebih baik.
Demikian beberapa pertimbangan dalam memilih jurnal sasaran kita. Semoga membantumu menemukan jurnal yang tepat. Mari selalu bersemangat untuk berkontribusi dalam ilmu pengetahuan di bidang kita masing-masing.**
Salam Semangat

