Ramadan tahun ini sudah menginjak puasa ramadan ke-6 semenjak saya pulang ke Indonesia. Padahal rasanya belum lama saya merasai puasa ramadan di Glasgow saat menempuh pendidikan S3 di sana. Ah, Glasgow, mengingatnya selalu menerbitkan rasa rindu. Karenanya kali ini saya ingin mengenang kembali saat-saat menjalani puasa ramadan di Glasgow, Inggris Raya. Sekaligus juga ingin berbagi cerita, siapa tau rekan-rekan sekalian yang berencana melanjutkan studi di sana ingin tau, seperti apa sih menjalani puasa ramadan di Inggris Raya.
Awalnya kebayang lama banget!
Iya, jujur saja awalnya kebayang lama banget harus berpuasa sekitar 18 jam. Bisa kuat nggak ya? sempat terlintas pikiran seperti itu sih. Karena selama 4 tahun saya di Glasgow, ramadan berlangsung pada saat musim panas, dimana waktu siangnya jauh lebih panjang daripada waktu malam. Bila mengacu pada jadwal puasa dari Central Mosque Glasgow (masjid terbesar di Glasgow), dulu waktu sahur ramadan pertama sekitar pukul 2.45 kemudian buka puasa (waktu magrib) pukul 22.14. Jadi kami akan menjalani puasa ramadan kurang lebih 18 jam, yang tentu saja lebih lama dibandingkan dengan waktu puasa di Indonesia.
Berbeda bila berpuasa di musim dingin, yang magribnya bisa saja sudah tiba sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Makanya strateginya, bagi yang perempuan yang biasanya ada hutang puasa tuh, nah waktu yang paling tepat untuk melunasi hutang puasa yakni saat musim dingin, karena waktu puasanya jauh lebih singkat, hehe..
Eh tapi berat nggak sih puasa sampai 18 jam tuh?
Hummm.. setelah dijalani, mungkin di awal-awal agak terasa berat, tapi lama-lama setelah terbiasa ya ternyata baik-baik saja. Untungnya, walaupun berpuasa di musim panas namun pada kenyataannya suhunya tidak terlalu panas. Di Glasgow, rata-rata suhu harian selama bulan Juni adalah 16 ° C, sementara Juli dan Agustus rata-rata harian 18 ° C dan tertinggi sekitar 23-25 0 C. Jadi tentu saja lebih panas di Indonesia bukan? Kondisi ini menyebabkan walaupun waktu berpuasanya panjang namun tidak terlalu kehausan karena tidak terlalu panas.
Biasanya saya beraktivitas seperti biasa, pergi ke lab kemudian pulang sekitar jam 5. Nah sampai di flat, bisa beristirahat sejenak sebelum menyiapkan berbuka puasa. Bisa lumayan buat tidur, walaupun awalnya agak aneh terang benderang tapi buat waktu tidur. Karena nanti malamnya, biasanya saya tetap terjaga dari waktu berbuka sampai sahur. Tentu saja karena waktu maghrib dan subuhnya tidak terlalu lama.
Setelah berbuka, kemudian bisa tarawih di dawatul islam, semacam mushola kecil di dekat Flat. Biasanya mampir dulu ke flat sahabat-sahabat saya di Otago Street, ataupun bahkan dulu lebih sering berbuka puasa di sana. Alhamdulillah sih, walaupun di negeri orang namun tempat beribadah tersedia. Glasgow lumayan kondusif bagi kami warga muslim. Mushola, masjid dan penjual daging halal cukup terjangkau sehingga terasa betul memudahkan kami.

Menjalani puasa ramadan di negeri orang tentu saja menghadirkan kerinduan untuk menikmati suasana ramadan seperti di tanah air. Salah satu yang istimewa dari Indonesia sebagai negara dengan mayoritas agama islam adalah semaraknya bulan ramadan. Sepertinya semua orang menyambutnya dengan penuh keriangan. Berjajar penjual makanan takjil menjelang buka puasa, suara azan dari masjid-masjid, banyaknya jamaah salat tarawih, acara buka puasa bersama dan juga banyak kegiatan-kegiatan pengisi ramadan lainnya.
Sementara kami tinggal di Skotlandia dimana islam menjadi agama minoritas. Populasi muslim di Skotlandia sampai tahun 2011 mencapai 76.737, sekitar 1.4% dari total penduduk di Skotlandia. Mayoritas penduduk Skotlandia beragama kristen, dan muslim merupakan kelompok ketiga terbesar non-kristen setelah ateis dan agnostik. Sebagain besar populasi muslim di Skotlandia berasal dari Asia Selatan, terutama yang berasal dari Pakistan.
Oleh karena itu, tentu saja tak ada bedug yang semarak, tak ada ramainya penjual-penjual takjil menjelang buka puasa. Aura ramadan sama sekali tak terasa. Mungkin penduduk Glasgow banyak yang tidak menyadari atau mengetahui bahwa umat muslim akan memasuki bulan ramadan, namun aja juga sih yang mengetahuinya.
Namun sebagai kaum minoritas, kami bersyukur masih diberikan banyak kemudahan untuk tetap beribadah di negeri ini. Halal Butcher (tempat menjual daging halal) relatif mudah dijangkau, tempat beribadat untuk salat berjamaah juga ada di beberapa daerah Glasgow. Dan tentu saja, mempunyai pengalaman berpuasa di luar negeri dimana islam menjadi minoritas tentu saja menjadi pengalaman menarik yang akan memperkaya pengalaman hidup kami. Beribadah bisa dimana saja, Tuhan selalu memberikan kemudahaan bagi hamba-Nya.
Ada juga komunitas sesama warga Indonesia di Glasgow yang selalu membuat suasanan hangat. Ada kegiatan buka puasa bersama, sekaligus pengajian. Tentu saja tidak pernah ketinggalan, sajian makanan istimewa khas Indonesia yang selalu dinanti. Canda tawa ria di tanah rantau, selalu terkenang indah untuk cerita nanti. Aih, rindu!
Jadi bagi kalian yang hendak pergi melanjutkan studi di Inggris Raya, jangan khawatir walaupun puasa ramadannya lama, tapi nggak seberat yang dibayangkan kok! Malahan seru karena kalian akan banyak mengalami pengalaman-pengalaman menarik tak terlupakan nantinya.
Salam,

