7 Tips Menyelesaikan Studi PhD

Bagi yang pernah menyelesaikan studi PhD di luar negeri pasti setuju bahwa perjalanan menyelesaikan PhD itu sebuah episode hidup yang penuh tantangan sekaligus kenangan yang tak terlupakan. Fase pendidikan ini terasa sangat berbeda dengan fase-fase pendidikan sebelumnya. Mungkin karena kemampuan akademik saya tidak akan cukup untuk dapat menyelesaikan perjalanan sekitar 4 tahun itu.

Bisa membayangkan kan, beban di pundak yang kayak “nempel” terus selama 4 tahun. PhD sendiri berasal dari bahasa latin Philosophiae Doctor (atau Doctor of Philosophy), di mana filsafat tidak dipahami sebagai cabang ilmu pengetahuan, tetapi sebagai makna aslinya dalam bahasa Yunani “cinta kebijaksanaan” atau “pengejaran pengetahuan yang mendalam. Pengetahuan hidup! hihi karena entahlah, dalam perjalanannya selain pengetahuan keilmuah, kelenturan dan ketahanan hidup terasa begitu ditempa.

Kayaknya soft skills seperti kemampuan manajemen waktu, mengelola stress, komunikasi, kemandirian itu sangat penting untuk bisa menyelesaikan studi PhD. Soalnya memang kita dituntut untuk “berjalan” sendirian sampai di penghujung. Supervisor saya rasakan sangat berbeda dengan pembimbing pada saat studi S1 dan S2 yang udah kayak kasih guidance apa yang harus dilakukan untuk riset/penelitian. Iya sih penelitian saat S1 dan S2 kan paling lama 1 tahun dari menulis proposal sampai selesai. Nah kalau PhD, paling tidak selama 4 tahun yang peran supervisor itu terasa lebih ke arah memberi kode-kode aja gitu kita harus gimana. Tapi perjalanannya, seperti kita harus mencari tau sendiri mau kemana, ngapain dan mau “seberapa laju” kita dalam menyelesaikan PhD

Nah, berikut ada beberapa tips menyelesaikan PhD yang saya sarikan dari beberapa sumber

1) Pilihkan topik riset PhD-mu sesuai dengan passion/ketertarikanmu. Ya karena kamu akan “bersama” topik itu dalam waktu yang panjang, pastikan kamu suka apa yang akan kamu kerjakan. Jadi kalau ada jalan jalan terjal di sepanjang perjalanan, kamu masih punya alasan untuk terus berjalan.

2) Pilih supervisor dengan cermat. Karena supervisor tuh kayak key person yang akan menentukan akan seperti apa perjalanan PhDmu nanti. Nah kalau mau aman, mungkin bisa dikenalin dari rekomendasi teman di luar negeri yang sudah mengenal beliaunya. Tapi kalau nggak ada, ya kayak saya…cuma berbekal Bismillah! insting aja memilih ketika browsing-browsing di website-website Universitas inceran saya. Alhamdulillah saya tidak salah pilih, ehehe.

3) Fleksibel dengan topik risetmu. Kadang beberapa orang sangat idealis dengan studi PhDnya, dengan goals ingin menciptakan apa, atau goals yang mungkin memang brilian namun terkadang tidak realistis. Perubahan sub topik riset sangatlah mungkin terjadi di sepanjang perjalanan PhD, jadi fleksibellah. Ingat, kamu hanya punya waktu sekitar 3 tahun untuk riset dan 1 tahun untuk menulis. Kalau kamu punya idealisme tertentu, kamu bisa kok menyelesaikan projectmu setelah selesai Ph.D

4) Menjaga kesehatan mental itu penting. Walaupun kamu sibuk bekerja di lab atau mengerjakan risetmu, jangan lupa tetap menjaga kewarasan jiwamu. Boleh banget loh weekend untuk jalan-jalan, apalagi kalau negeri tempatmu kuliah itu banyak tempat yang kece-kece. Kemudian bergabung dengan komunitas sesama pelajar Indonesia, ataupun melakukan aktivitas-aktivitas lain selain studi PhDmu juga bisa membuatmu “rehat” dari beban di pundak yang nempel terus itu.

5) Baca dan Nulis, Nulis! Studi PhD memang menuntut kita untuk rajin membaca topik riset yang kita pilih, kemudian rajin-rajinlah menulis. Karena akan sangat membantumu ketika menulis Thesis/Disertasimu nanti. Terbiasa membuat log book riset, dan juga catatan laporan singkat itu juga sangat membantu agar data-datamu tidak tercecer.

6). Rajin mengikuti seminar/konferensi untuk membangun network internasional. Hihiii harusnya memang gini sih, tapi saya agak kurang ahli urusan beginian. Kalau rajin ikut konferensi modusnya biar habis konferens bisa jalan-jalan di kota yang dituju. Tapi memang bener sih, memang selama studi Ph.D itu saat yang paling tepat untuk membangun network dengan berbagai orang/ahli yang sebidang dengan kita. Ketika pulang ke tanah air, manfaatnya akan terasa sekali. Selain itu biasanya ada banyak tawaran workshop-workshop kece yang biasanya gratisan dari kampus, sayang banget kalau dilewatkan.

7) Jaga support systemmu selama perjalanan. Karena studi PhD merupakan perjalanan yang panjang, pastikan kamu punya dan jaga support systemmu. Orang-orang terdekat yang selalu ada untuk memberikan dukungan, ketika ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak cerita rekan-rekan saya yang mengalami banyak peristiwa hidup selama menempuh PhD. Ada yang ibunya meninggal di tahun Ph-Dnya yang ke-empat, ada yang bercerai, ada beasiswanya tidak diperpanjang sehingga kesulitan pendanaan untuk menyelesaikan studi. Setiap diri akan diuji dengan ujiannya masing-masing, maka orang-orang yang no matter what happens akan selalu ada buatmu akan sangat penting.

Kok kayak serem ya jadinya? heheh enggak kok. Perjalanan PhD akan penuh jalan-jalan berliku yang banyak sekali rasanya. Sangat layak untuk diselesaikan untuk menjadi perjalanan yang penuh kenangan.

Yang tengah mengupayakan studi Ph,D, semangat selalu

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *